Candi Sukuh di Lereng Gunung Lawu

IdeCara.com -

 
Candi Sukuh

Candi Sukuh di lereng gunung lawu - Bukan hanya Yogya yang kaya akan candi, Solo Raya pun juga punya candi, salah satu candi yang menarik untuk dikunjungi adalah Candi Sukuh, candi ini berada di lereng gunung Lawu yang berhawa sejuk, tepatnya di Dukuh Berjo, Desa Sukuh, kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Selain candinya yang unik kawasan di sekitar candi sangatlah indah, hamparan lembah di sisi barat candi membuat sensasi tersendiri saat anda duduk-duduk di beberapa batuan di pinggiran candi.

Untuk menuju ke lokasi candi ini tidak bisa dibilang mudah, Dari Terminal Tirtonadi Solo, Anda bisa menggunakan bis umum jurusan Solo-Tawangmangu dan turun di Karang Pandan, dilanjutkan dengan naik minibus jurusan Kemuning dan disambung dengan ojek hingga ke kawasan candi.

Jika menggunakan mobil, pastikan mesin mobil memiliki kapasitas mesin yang lebih dari 2000 cc, karena medan jalan menuju candi dipenuhi dengan tanjakan-tanjakan yang terkadang cenderung curam.

Candi Sukuh terkenal dengan relief dan patung-patungnya yang memberikan kesan erotis, gelar ini memang cukup beralasan, karena pengunjung bisa menyaksikan relief tanpa busana, relief yang dikenal dengan sebutan Lingga dan Yoni, yang merupakan penggambaran dari Penis dan Vagina, yang merupakan alat kelamin pada manusia.

Sebelumnya pernah ada sebuah patung yang berbentuk seorang laki-laki tanpa kepala yang sedang onani, namun saat tulisan ini ditulis patung itu tidak ditemukan lagi.

Selain hal-hal erotik, candi ini juga terkenal karena bentuknya yang menyerupai Piramida suku Maya yang ada di Amerika Tengah, bentuknya sejenis trapesium dan berupa undakan batu-batuan.

Candi ini bentuknya berbeda dengan kebanyakan candi di Jawa ini dibagi menjadi 3 teras candi, teras yang pertama terdapat sebuah sangkala yang dalam bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta abara wong. Dalam Bahasa Indonesia bermakna “Gapura sang raksasa memangsa manusia”.

Kata-kata ini memiliki makna 9, 5, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi, selanjutnya di teras yang kedua dapat disaksikan Gapura pada teras kedua sudah rusak, di gapura ini tidak dijumpai banyak patung-patung, namun pada gapura ini terdapat sebuah candrasangkala pula dalam bahasa Jawa yang berbunyi gajah wiku anahut buntut.

Artinya dalam bahasa Indonesia adalah “Gajah pendeta menggigit ekor”. Kata-kata ini memiliki makna 8, 7, 3, dan 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1378 Saka atau tahun 1456 Masehi, Selanjutnya pada teras ketiga terdapat pelataran besar dengan candi induk dan beberapa relief di sebelah kiri serta patung-patung di sebelah kanan. Jika para pengunjung ingin mendatangi candi induk yang suci ini, maka batuan berundak yang relatif lebih tinggi daripada batu berundak sebelumnya harus dilalui. Selain itu lorongnya juga sempit.

Mitos

Konon keberadaan relief pada candi ini dulu dimaksudkan pula untuk menguji keperawanan seorang perempuan. Menurut cerita masyarakat lokal, bila melangkahi relief itu kemben si perempuan melorot tandanya sudah tidak perawan lagi. Sedangkan bila kemben si perempuan kuat melekat di tubuh, pertanda masih gadis.
IdeCara
Macam-macam Ide & Cara, tutorial, kumpulan tutorial menarik disajikan dalam Bahasa Indonesia

Related Posts

Posting Komentar